Tulis & Tekan Enter
Logo
images

Jangan Menolak Tamu, itu Prinsip

Oleh; Ust. H. Fahrizal Ischaq, Lc. M. Fil. I.

Perkembangan Pendidikan terutama Pesantren di Indonesia sudah sedemikian rupa, dalam prespektif penulis yang faqir terdapat 2 madzhab besar yang mengerucut, antara Tradisional dan Modernis, meski ada beberapa pesantren yang mencoba menggabungkan keduanya walaupun selalu ada yang lebih dominandi antara keduanya. Sebut saja Suci hasil perkawinan antara Gontor dan Langitan, Perenduan mengawinkan Gontor dan Mekkah Maduraisme (baca; Tradisi Madura) dan tentunya Junwangi pertemuan Purwoasri dan Gontor, kesemuanya memberikan warna tersendiri dalam khazanah pendidikan Islam di Indonesia.

Dalam foto ini kami sedang mengunjungi (baca;sidak) para guru Sanggar Tahfidz Entrepreneur dalam pelaksanaan Tahfidz Camp di Pegunungan Pacet bersama ratusan penghafal al-Qur'an di pesantren kami, kunjungan pimpinan ini penting, selain memotivasi para guru dan anak-anak juga sebagai tolak ukur tradisi lembaga yang baru 3 tahun berdiri ini. Dan menurut kami yang paling bernilai dalam foto ini adalah, adanya hidangan kue, dan aneka minuman yang dihidangkan para guru tahfidz di Puncak gunung untuk kami, kami tidak ada jadual tertentu ke Pacet dan hanya memberi kabar saat kami mau berangkat kepada wakil direktur, di saat mendadakpun mereka siap memboyong tradisi pondok meski dalam kondisi jauh, yaitu memuliakan tamu dengan sebaik mungkin dan memberikan penghormatan tulus bukan sekedar pemanis bibir belaka.

Kue yang terpotong dan air mineral memang terlihat remeh, tapi jika itu dilakukan dengan rancangan antisipatif hasil sebuah rapat koordinasi akan menjadi istimewa, tidak di pondok, tidak di luar standar menghormati tamu yang stabil dan konsisten adalah cerminan peradaban sebuah lembaga, apalagi ini dilakukan oleh guru tahun pertama dan kegiatannya jauh puluhan kilometer dari pesantren, bukankah semua yang besar dibangun di atas pondasi yang kecil. Belum lagi jika melihat sandal dan sepatu yang tertata di lokasi puluhan kilo dari pesantren. This is Amazing!

Kenapa saya menyoroti ini, saya pernah melihat lembaga Islam yang sudah besar menyuguhi Bupati dengan air mineral tanpa gelas dan sedotan, bagaimana mungkin "sampai" seorang bupati itu "ngokop" di depan ribuan rakyatnya, sukses mengundang Bupati dan lupa dengan menyuguhkan keunggulan tradisi kita, saya banyak menemukan lembaga yang keren, tapi jika kondisinya bergeser dari lokasi lembaga semua SOP lembaganya jadi tidak berharga, alhamdulillah kami pernah berkunjung ke pesantren terkenal dan diinapkan di teras kamar guru mudanya, jadi ketika kami tidur, berseliweranlah guru-guru muda itu, pengalaman yang berharga. Saya juga menemukan banyak pesantren yang menolak tamu, Wow, apakah itu masuk dalam tradisi peradaban kita?. Mungkin prioritas saat itu menjadi berbeda, bisa jadi itu bukan menjadi konsen mereka, tapi bukankah ini prinsip dalam agama kita? Ini sangat mendasar menurut saya.

Dalam prinsip tradisi yang kita bangun, pondok Junwangi pantang untuk menolak tamu, apapun kondisinya. Setiap hari kami belajar meningkatkan pelayanan terhadap orang-orang mulia yang datang ke pesantren kami, orang gila sekalipun, karena faktanya selalu ada orang gila yang datang ke pesantren kami dari dulu hingga sekarang dan tidak pernah kami usir, karena kami meyakini Allah juga yang mengirimnya. Kami belajar menerima tamu di bawah saung bambu kami, mempelajari makanan kesukaan mereka hingga memilihkan oleh-oleh yang pas dan dibutuhkan oleh tamu tsb, jika dibutuhkan kami menyediakan baju ganti lengkap dengan pijat tradisional dan bekam jika dibutuhkan. Hingga ada seorang Asesor yang kecapean dan "memberi" nilai A ke salahsatu lembaga kami karena tukang pijet kami, satu lagi, saya langsung yang biasanya mengecek kerapian, kebersihan dan kewangian mobil jemputan tamu sebelum berangkat. Kesyukuran ini terus kami rasakan hingga ada yang terkenang dalam memori kami ketika kami jenguk saudara Pesantren di Lombok pasca musibah gempa, salah satu Ustadz menyampaikan "Alhamdulillah Al-Amanah datang, maafkan kami yang belum sebaik Pesantren Antum dalam melayani tamu! " sambil berkaca-kaca mengenang saat beliau ada di Junwangi. Hati saya bersyukur kepada Allah. Padahal pondok tersebut sudah sangat luar biasa melayani kami saat itu bukan hanya sambutan tapi juga dengan hidangan yang beraneka ragam, mesti dalam kondisi musibah gempa.

Intinya semua yang besar harus dipondasi dari hal-hal yang kecil, prinsipnya tamu itu penting, memuliakan tamu adalah wajib, menolak tamu adalah pantang dalam pondasi agama kita, syukur menjadi pondasi pesantren, tamu adalah berkah, do'anya mustajab. Karena pengalaman kami, pondok ini bisa besar juga karena do'a dan langkah tamu-tamu yang mulia yang mengiringi kami. Kita boleh berfikir besar tapi pantang memberikan perhatian yang kecil. Jangan hanya pandai menyambut "pejabat", karena bisa jadi tamu yang selain pejabat lebih mulia di mata Allah. Hormati SEMUA tamu!

Saya tutup dengan sebuah filosofi pendidikan yang tersohor, *jika kita ingin melihat baik tidaknya sebuah lembaga, maka lihatlah bagimana mereka melayani tamunya*. Wallahu Khoirul Musta'an.


TAG , Tamu,

Tinggalkan Komentar