Tulis & Tekan Enter
Logo
images

REFLEKSI KEMERDEKAAN

REFLEKSI KEMERDEKAAN

     Kemerdekaan yang saat ini kita nikmati bersama tidak mudah untuk didapatkan. Sejarah telah mencatat perjalanan panjang perjuangan para pahlawan demi meraih kemerdekaan. Keikhlasan, ketulusan, serta pengorbanan para pejuang sudah tak terbantahkan lagi. Maka, sudah menjadi kewajiban kita untuk bersyukur dan meneruskan perjuangan para pahlawan.

     Secara legalitas, kita memang sudah merdeka, tapi jika kita lihat lebih dalam lagi ternyata kita belum sepenuhnya merdeka. Dahulu, musuh yang dihadapi sifatnya nyata. Para pejuang memanggul senjata untuk berperang melawan penjajah. Lain halnya dengan situasi yang kita hadapi di zaman serba canggih ini. Kita tidak lagi melawan penjajah secara fisik, tapi lawan kita adalah nafsu. Rasa malas, iri hati, berseteru mendominasi kehidupan kita sehari-hari.

    Belum lagi kecanggihan alat teknologi saat ini yang ternyata juga menghadirkan babak baru dalam perjalanan kehidupan kita. Fakta menunjukkan bahwa pengguna aplikasi HP di Indonesia mencapai triliunan yang semua keuntungannya dimilki oleh negara asing. Kita sadar akan hal tersebut dan kita rela menyetorkan "upeti" dari penggunaan layanan alat canggih itu kepada mereka. Ini juga merupakan bentuk "penjajahan" yang tidak nampak.

    Kenyataan pahit lainnya adalah, banyak pemuda masih belum jelas arah tujuan hidupnya. Kesehariannya lebih banyak diisi dengan kegiatan "nongkrong" di warung selama berjam-jam tanpa mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Diskusinya pun sekedar diskusi ringan tanpa bobot. Banyak juga diantaranya yang sibuk dengan alat komunikasinya, entah apa yang sedang ditonton.   Inilah yang menjadi refleksi kita semua, apakah sepenuhnya kita sudah merdeka?

    Maka, harapan terbesar dari para pendiri bangsa ini adalah para generasi muda mampu meneruskan perjuangan para pahlawan. Saat itu, seseorang seperti Ir. Soekarno yang cerdas, pandai berorasi mungkin banyak. Tapi, Ir. Soekarno mempunyai keberanian untuk membuat pembaharuan. Mungkin seseorang seperti Moh. Hatta, seorang pakar ekonomi, cukup banyak. Tapi yang memiliki ciri khas berbeda dalam kepemimpinan seperti Moh. Hatta, tidaklah banyak.

    Semoga, dari generasi yang terdidik di pesantren ini terlahir tokoh-tokoh besar seperti layaknya alm. KH. Maimun Zubair yang mampu memberi cahaya keilmuan. Semoga kelak para santri juga mampu mewarnai segala aspek kehidupan ini dengan segala ilmu yang dimiliki serta berakhlaqul Karimah.

    Tantangan yang dihadapi para generasi saat ini tidak kalah kerasnya seperti zaman penjajahan. Mereka akan menghadapi orang-orang atau golongan yang menganggap diri mereka seolah-olah "utusan" Tuhan yang dengan mudahnya memberikan hukum, menghakimi seenaknya. Menjadi cerdas saja tidak cukup, para santri ini harus mempunyai keberanian untuk berargumen dengan mereka yang mempunyai sifat semacam itu.

Mari kita Rayakan Kemerdekaan dengan Perjuangan membangun Bangsa!
Merdeka!!

Pidato KH. Nurcholis Misbah dalam upacara Kemerdekaan Ri di Pesantren al Amanah.



Dipost Oleh adminEdi

Edi Antawirya

Tinggalkan Komentar