Tulis & Tekan Enter
Logo
images

Tanpa Menulis Kau Takkan Menjadi Besar

(Catatan Perjalanan menjemput rindu Hagia Shophia part-1)

Oleh Ahmad Fakhruddin Addimasqi*

Setelah pengarahan dari Pimpinan Pesantren Darunnajah KH. Dr. Sofwan Manaf, MSI., dengan para Pimpinan Pesantren yang lain, Malam itu saya sempatkan untuk melanjutkan tradisi menemui santri saya yang belajar dimana kota yang saya kunjungi di Indonesia, kali ini adalah Jakarta, merekapun yang melanjutkan studi di ibu kota datang "sowan" kepada kami, ada Malik, Syarifah Labibah dkk. Kesemuanya tergabung dalam asosiasi HIMMAH (Himpunan Mahasiswa Al-Amanah korwil DKI). Duhai Shophia, Doakan mereka..!

Seperti biasa, agar ajakan saya ringan direspon oleh para alumni, saya kirim whatshap ke mereka "Makan Yuk! Sambil Ngobrol, Ustadz yang traktir! Don't worry! ", jika pesan ini saya kirimkan ke semua alumni yang tersebar di Indonesia, pasti sangat cepat meresponnya, meskipun banyak diantara mereka yang memang ingin bertemu bukan karena makan, tapi ingin tau perkembangan pondok mereka di Junwangi, jauh dari kebisingan kota dan hiruk pikuk politik nusantara. Salah satu dari mereka saya tanya "Bagaimana kamu melihat pondokkmu dari jauh?", Syarifah menjawab, "Keren, kami mengikuti dari medsos dan selalu membuat rindu Ustadz! " begitu jawabnya singkat.

Sebelum makan di luar, kami ngobrol sebentar, di waktu inilah saya selipkan pesan-pesan pendek untuk mereka, salah satunya selalu saya sampaikan kepada mereka dan semua santri di Indonesia pada umumnya dalam tulisan ini, bahwa apapun profesi kita, jika tanpa menulis, kita takkan pernah menjadi besar. Karena tubuh manusia akan mati, nafasnya akan berhenti, gerakanya akan terbatas di suatu saat nanti, tapi tulisannya tak akan pernah bisa berhenti, dia akan tetap hidup bersama fikiran dan ruh perjuangannya.

Kyai Imam Zarkasyi adalah salah satu Kyai tersohor di negeri ini yang hari ini tulisannya masih hidup, meski raga tertimbun tanah, setiap saya berbincang berbahasa Arab dengan para pramugari Arab di atas pesawat dan para dosen Arab di seluruh dunia, memori saya selalu kembali kepada Kyai Bijak yang berpeci hitam dan ganggang hitam kaca matanya, Durusullughoh yang disusun bersama sahabat beliau Kyai Imam Syubani menghilhami banyak pakar bahasa dari Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Duhai Shofia! Betapa melimpahnya pahala beliau berdua, di dunia kuburannya terlihat sederhana, tapi tahukah Engkau Shofia, dibaliknya terdapat istana megah ribuan kali lipat yang dibangun oleh para pangeran Oman di Moscat keindahannya.

Hamka, Gus Dur dan Nurcholis Majid adalah tokoh peradaban Islam Indonesia yang namanya abadi dalam sanubari setiap pemikir dan pergerakan, meski dipenjara, Hamka tetap bebas fikiran dan penannya menembus ruang dan waktu, Gus Dur yang diharuskan lumpuh akibat percobaan pembunuhan oleh lawan politiknya, sampai hari inipun gagasannya sebagai Bapak Universal tetap digugu dan ditiru oleh Bangsa ini. Dan Nurcholis Majid meski sudah tiada, masa hidupnya penuh dengan pro-kontra pemikiran, tapi mau tidak mau, hari ini semua jurusan pemikiran di kampus Islam di Indonesia tidak ada yang tidak merujuk pada karya-karya beliau di masa lalu.

Persaingan hari ini begitu luar biasa, banyak sarjana yang menganggur, title Lisence (Lc) dan Magister sudah berserakan tak ada arti, semua tergantung pada kualitas diri kita, disiplin, tanggung jawab dan jujur menjadi barometer asasi dalam menyongsong masa depan ummat di masa yang akan datang. Tanpa menulis kita akan hanya menjadi debu, tanpa menulis kita akan hanya berlayar di tepi pantai, Duhai Shofia! Bukankah engkau juga tersohor karena goresan pena para orang-orang besar?

Tak terasa sebentar lagi Turkish Airlines yang saya tumpangi akan mendarat di Istanbul, Sabar Sophia! Sebentar lagi aku akan menjengukmu, kan kubuka fikiran dan hatiku agar bisa merasakan setiap bahasa arti yang kau bangun selama ini,semoga kita berdua bisa seirama. Bismillah!

*Nama Dakwah dan Pena Ust Fahrizal Ischaq, Lc. M. Fil. I. hadiah dari Syeikh Prof. Dr. Muhammad Rojab Dieb, Mursyid Penulis sekaligus Ketua Ikatan Rektor Biladis as-Syam, Damaskus-Suriah

Moscat, 15 Oktober 2018


TAG , ,

Tinggalkan Komentar