Info Terbaru
Friday, 02 Oct 2026
  • Vlog Ramadhan Pengasuh Tersedia Pada Kanal Youtube Santri Kita

Tamu Kita: Menjemput Hikmah dan Puisi Bersama Sang “Celurit Emas”

Friday, 2 October 2026 Oleh : Tim Admin

Kehadiran sosok D. Zawawi Imron selalu membawa kesejukan tersendiri. Sastrawan sekaligus budayawan nasional asal Madura yang dijuluki “Celurit Emas” ini hadir di tengah keluarga besar Pesantren Modern Al-Amanah pada penghujung tahun, tepatnya Sabtu, 27 Desember 2025.

Kehadiran beliau merupakan undangan istimewa untuk mengisi hikmah nikah pada resepsi pernikahan Gus Ahmad Al-Halajji, putra keempat pengasuh pesantren, Nurcholish Misbah. Sejak Sabtu siang, beliau telah tiba di pesantren setelah dijemput langsung oleh Fahrizal Ischaq Addimasqi, Pimpinan Pesantren Modern Amanatussalam, Jombang.

Meski agenda utama adalah resepsi pernikahan, kerendahan hati Kiai Zawawi membuat beliau berkenan meluangkan waktu bagi para santri. Sabtu malam menjadi momen tak terlupakan bagi santri putri Pesantren Modern Al-Amanah. Bertempat di Pendopo Giri Kedaton, diadakan sarasehan sastra yang berlangsung akrab dan hangat. Suasana malam itu terasa sangat syahdu; rintik gerimis yang membasahi bumi seolah turut menyimak untaian kata bijak dari sang kiai. 

Turut hadir dalam kesempatan tersebut KH. Fahrizal Ischaq Addimasqi, Lc., M.Fil.I., yang mendampingi beliau, serta Kepala Kepengasuhan Santri Putri, Ning Alik Nadziroh, M.Pd., bersama segenap ustazah. Puncak emosi malam itu pecah saat Kiai Zawawi membacakan salah satu puisi fenomenalnya berjudul Ibu. Suara beliau yang tenang namun berwibawa mampu menyihir seluruh audiens.

“Ibu… kalau aku merantau lalu datang musim kemarau,
sumur-sumur kering, daun-daun pun gugur bersama reranting,
hanya mata air matamu, Ibu, yang tetap lancar mengalir…”

Bait demi bait tersebut tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga pengingat bagi para santri tentang bakti, kasih sayang, dan spiritualitas yang membumi. Melalui sarasehan ini, Kiai Zawawi menitipkan pesan bahwa sastra bukan sekadar susunan kata, melainkan cermin kebersihan hati dan kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.

Keesokan harinya, Minggu, 28 Desember 2025, suasana khidmat menyelimuti lokasi resepsi pernikahan Gus Ahmad Al-Halajji (Gus Aji) dan Ning Tasya. KH. D. Zawawi Imron, yang telah hadir sejak sehari sebelumnya, naik ke pelaminan bukan hanya sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai orang tua yang memberikan bekal spiritual bagi kedua mempelai.

Dalam penyampaian hikmah nikah, Kiai Zawawi menekankan bahwa pernikahan adalah sebuah perjalanan seni-seni mengolah kesabaran dan seni merawat syukur. Dengan gaya bicaranya yang khas, beliau berpesan agar Gus Aji dan Ning Tasya senantiasa menjaga kelembutan hati dalam berumah tangga.

“Rumah tangga itu seperti puisi,” tutur beliau di hadapan para undangan. “Ia harus memiliki rima yang indah antara hak dan kewajiban, serta diksi yang santun dalam setiap tegur sapa. Jadikanlah kasih sayang sebagai tinta, dan kesetiaan sebagai kertasnya.” 

Beliau juga mengingatkan hadirin untuk senantiasa mencintai Allah dan Rasulullah dalam setiap napas kehidupan. Kehadiran beliau meninggalkan kesan mendalam: bahwa ilmu setinggi apa pun harus tetap dibalut kerendahan hati dan kecintaan terhadap budaya.