Tahun 1230 H (1814 M) menjadi catatan sejarah penting bagi Desa Tanara, Banten. Di sana, lahir seorang putra sulung dari pasangan Kiai Umar dan Nyai Zubaidah yang diberi nama Muhammad Nawawi. Nama “Nawawi” dipilih oleh sang ayah karena kekaguman yang mendalam terhadap Imam Nawawi dari Damaskus, seorang ulama besar penulis kitab Al-Majmu’. Kiai Umar berharap putranya kelak mewarisi kealiman dan produktivitas sang imam dalam menulis.
Syaikh Nawawi lahir di masa pemerintahan Bupati Muhammad Rafiuddin di Banten Hilir. Secara silsilah, beliau mewarisi darah bangsawan dan ulama dari garis ayahnya, yang tersambung kepada Maulana Hasanuddin (Sultan pertama Banten) dan Sunan Gunung Jati. Jika ditarik lebih jauh ke atas, silsilahnya mencapai Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain, cucu dari Nabi Muhammad saw.
Pendidikan awal Syaikh Nawawi dimulai langsung di bawah bimbingan sang ayah di masjid kampung sejak usia lima tahun. Menginjak usia delapan tahun, dahaga akan ilmu membawa beliau berkelana ke berbagai pesantren di Jawa bersama dua adiknya, Tamim dan Ahmad. Mereka berguru kepada Haji Sahal di Banten dan Raden Haji Yusuf di Purwakarta.
Sebuah kisah ikonik menyertai keberangkatannya: Ibunya, Nyai Zubaidah, memberikan restu dengan syarat yang berat, yakni mereka tidak boleh pulang sebelum pohon kelapa yang ditanam sang ibu berbuah. Setelah enam tahun menimba ilmu, pengajarnya di Cikampek secara ajaib menyuruh mereka pulang karena mengetahui pohon kelapa di Tanara telah berbuah. Kepulangannya membawa gelar “Kiai Muda” yang sangat alim di usia belasan tahun.
Hijrah ke Mekkah: Menjadi Sayyid ‘Ulama’ al-Hijaz
Setelah kematian ayahnya saat beliau berusia 13 tahun, Syaikh Nawawi sempat menggantikan posisi ayahnya mengajar selama dua tahun. Namun, pada usia 15 tahun (1830 M), beliau memutuskan berangkat ke Mekkah untuk berhaji dan menuntut ilmu. Meskipun sempat kembali ke Banten, beliau akhirnya memilih menetap selamanya di Mekkah karena merasa kebebasan dakwahnya di tanah air terbelenggu oleh pengawasan ketat penjajah Belanda.
Di tanah Hijaz, beliau berguru kepada deretan ulama besar seperti Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Nahrawi, dan Syaikh Abdul Ghani Bima. Ketekunannya menempatkan beliau pada posisi terhormat sebagai pengajar di Masjidil Haram, sejajar dengan tokoh-tokoh besar lainnya dari Nusantara. Karena produktivitas karyanya, beliau dijuluki al-Nawawi al-Tsani (Nawawi Kedua) dan Sayyid ‘Ulama’ al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz).
Karya-Karya dan Jejaring Murid
Syaikh Nawawi adalah penulis yang luar biasa produktif. Karya terbesar beliau adalah tafsir dua jilid berjudul Marah Labid atau Al-Tafsir al-Munir yang diterbitkan di Beirut. Beberapa karya populer lainnya meliputi: Nihayah al-Zain, Tausyih ‘ala Ibn Qasim, dan ‘Uqud al-Lujain yang membahas hak suami istri (bidang Fikih), Fath al-Majid, Tijan al-Durari, dan Nur al-Zhalam (bidang Tauhid), Nasha’ih al-‘Ibad dan Maraqi al-‘Ubudiyyah (bidang Tasawuf), Madarij al-Shu’ud (Syarh Maulid Barzanji) dan Al-Ibriz al-Dani (bidang Sejarah nabi), Kasyf al-Maruthiyyah dan Lubab al-Bayan (bidang bahasa). Karya-karyanya tidak hanya dipelajari di Nusantara, tetapi juga tersebar hingga Malaysia, Thailand, Filipina, India, hingga ke wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.
Syaikh Nawawi menjadi “guru dari para guru” di Indonesia. Murid-murid beliau adalah tokoh kunci pergerakan Islam di tanah air, seperti KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan KH. Muhammad Khalil Bangkalan. Dalam kehidupan pribadi, beliau menikah dua kali, yaitu dengan Nasimah dan Hamdanah. Dari istri keduanya, beliau dikaruniai lima anak: Mariam, Nafisah, Ruqayah, Zuhra, dan Abdul Mu’thi. Uniknya, beliau sering menggunakan nama “Abu ‘Abd al-Mu’thi” (Ayah Abdul Mu’thi) pada sampul kitabnya sebagai bentuk penghormatan kepada satu-satunya anak lelaki beliau yang meninggal saat kecil. Salah satu cicit saudaranya yang terkenal saat ini adalah KH. Ma’ruf Amin, mantan Wakil Presiden Indonesia.
Akhir Hayat dan Kesederhanaan
Meskipun berstatus ulama internasional, Syaikh Nawawi tetap tampil tawadhu. Berdasarkan pengamatan orientalis Snouck Hurgronje, beliau berpakaian sangat sederhana, sering menggunakan kain yang pudar warnanya, dan memiliki pembawaan yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Syaikh Nawawi wafat pada 25 Syawwal 1314 H (1897 M) dan dimakamkan di Ma’la, Mekkah. Meskipun makamnya jauh di tanah suci, ribuan orang tetap memadati Desa Tanara setiap tahun pada tanggal 25 Syawal untuk mengadakan haul dan mengenang jasa-jasa sang Mahaguru yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah dunia
(Dirangkum dari “5 Ulama Internasional dari Pesantren” karya M. Solahudin)